Me and my extended family (hanya sedikit dari keluarga besar gue) went to Jogja to celebrate my sister’s wedding karena suaminya orang Klaten. Jadi karena trip kali ini diadjust sedemikian rupa untuk ngeplease para om-om dan tante-tante, do expect a lot of shopping time ya ^,^” hahaha. Karena gue pergi bareng keluarga, gue hampir ga keluar duit sepeserpun, so I apologize in advance; khusus itinerary Jogja ini ga akan ada detail total pengeluaran di bagian bawah post.  Gue akan tulis beberapa info harga yang gue tau, tapi totalnya ga ditulis karena gue ga actually paid for it :> Ok here goes!

4 May 2018

11:30 – Sampe di Bandara Adisutjipto. Selama di sana kita nyewa 2 unit mini bus Toyota Hiace dengan kapasitas 15 seats per mobil (termasuk supir. Kalo mau nyaman menurut gue maximal 12 orang dewasa untuk 1 mobil) dan semua udah dibantu arrange sama suami nci gue.

Minibus gue lumayan lega karena banyak anak-anak kecil ini, tapi BERISIKNYA ya Tuhan…. bener-bener bikin pala pening ^,^” but I guess masih mending ya karena mereka berisiknya karena main dan bukan nangis / berantem haha.

11:50 – Langsung menuju ke Ayam Goreng Suharti (Jl. Laksda Adisucipto No. 208) yang ada di deket airport untuk lunch. Siang itu kita rombongan terakhir yang sampe di Jogja, jadi sodara-sodara gue yang lain udah sampe duluan beberapa jam lalu dan udah nungguin kita di restoran.

Menurut gue (yang waktu itu udah super kelaperan), makanannya sih enak ya. Cuma beberapa sodara gue komplain bilang ayam / ikannya terlalu asin. But again for me rasanya pas-pas aja :p

13:00 – Dari restoran, kita langsung menuju ke Gua Maria Tritis (Jl. Sapto Sari, Dusun Bulu.) Kalo dilihat di peta, itinerary hari ini gue buat dengan rute melingkar dan destinasi setelah ini searah menuju jalan pulang ke villa :> Gua Tritis ini letaknya ada di dalam hutan. Dari parkiran kita harus jalan sebentar (sekitar 20 menitan) untuk menuju ke bibir gua. Jalanan di hutannya aga berbatu dan ada beberapa tempat yang sedikit curam, tapi I would say it’s a very easy walk dan ga serem sama sekali.

Anyway begitu turun dari mobil, ada banyaaaaaaaak banget anak kecil, ibu-ibu, sampe nenek-nenek ojek payung yang ngelilingin kita dan ngekorin kita nonstop sembari mayungin kita. I find it a bit annoying dan gue sampe berhenti lama supaya ga diekorin / dipayungin ybs. I know sebenernya mereka kinda ngeguide kita juga ke dalem hutan and everything, cuma gue a bit risih aja ditempel terus kayak begitu. Om tante gue yang lain santai aja jalan dan katanya setelah ziarah selesai, tante gue kasih mereka 10.000 / orang (tapi gatau berapa orang yang dikasih karena there were belasan if not hampir 20 of them!) Yea it’s no big deal sih, kalo kalian ke sana dan ketemu mereka, kasih aja 5.000 atau 10.000 untuk yang in charge mayungin kalian.

Di deket mulut gua ada tempat jalan salib and we found this. Pretty cool huh.

Gua Maria ini masih natural banget dan bener-bener terbentuk di dalam gua alami yang ada stalaktit stalakmitnya.

Look. At. That.

Itu yang ada tangga adalah bagian altarnya. Gila keren banget ga sih.

Air rembesan di dalam gua bisa diminum dan warga sekitar actually hold a mass there setiap 2 minggu sekali (kalo ga salah 2 minggu).

Gue bener-bener dibuat in awe sama keindahan gua ini. Di dalemnya lumayan adem dan hening, dan di sana ada tempat berdoa ke Bunda Maria dan Yesus yang dibuat simple. Berdoa di sana dijamin kusyuk deh 🙂

Meski tempatnya aga jauh dari kota dan jalanannya super berliku-liku sampe gue mual (sekitar 1.5 jaman dan 50 km away dari city center) menurut gue tempat ini worth untuk divisit, terlebih untuk orang-orang yang memang hobby ziarah ke Gua Maria. Sebenernya gue masukin ini ke itinerary juga karena tante gue pada request mau ziarah, that’s why.

15:55 – Cus ke Hutan Pinus Pengger (Jl. Dlingo-Patuk, Pantirejo, Terong) untuk ngeliat sunset. Mannnn this place was *insert emoticon jempol mengacung ke langit*!! I love it to bits! Meski (again and again) perjalanan dari Gua Maria ke sini tetep belak-belok dan gue ga less mual, but it was worth it! It took us an hour perjalanan, jadi kita sampe sana jam 16:50 (which was udah mepet banget sama jam sunset.) Alhasil jalan-jalannya super duper buru-buru dan begitu juga foto-fotonya 🙁

Semacam mini rumah kayu yang lumayan nyeremin buat dipanjat karena kayunya goyang-goyang dan bunyi ngek ngok ngek ngok. Di sana ada banyak spot foto kayak begini, but please be careful ya, gue ga 100% ngerasa it was well built dan aman.

Tempatnya asri buanget dan udaranya bener-bener bikin idung seger. Haha duh jelek banget ya deskripsinya :p Anyway jujur gue 100% ga puas pas ke sana. Gue ga sempet explore more karena terlalu lama stuck nungguin sunset di pinggir bukit (gue takut kalo gue jalan-jalan by the time balik ke pinggir bukit ternyata matahari udah terbenam.) Eeehh little did I know, ipar gue explore surrounding dan nemuin bukit lain yang ga kalah cakep dan sepi! Pffft 🙁

Ga semuanya lengkap, tapi inilah kurang lebih rombongan keluarga gue di trip ini :>

Menuju jam 5:30 pm, angin di sana udah mulai dingin dan way terlalu sepoi for us haha. Akhirnya sesaat sebelum bener-bener gelap, kita decided untuk left the place dan menuju tempat makan malam.

Huhu bye-bye Hutan Pinus Pengger 🙁

17:50 – Menuju Cengkir Heritage Resto and Coffee (Jl. Sumberan II No.4, Ngentak) untuk dinner. Jalanan sore itu lumayan macet dan kita ended up nyampe di Cengkir jam 19:10. Tempat ini disuggest oleh salah seorang tante gue.

Tempatnya gedeeeeee dan ada banyak tempat both indoor maupun outdoor untuk makan.

Di sini sistem makannya ngambil sendiri. Makanannya sendiri menurut gue enak dan unik-unik, but I wouldn’t lie, tempatnya menurut gue terlalu gelap, sumpek (karena hari itu rame), dan kurang nyaman buat gue. Bangku dan meja kayunya udah aga tua and it made the dining experience less pleasant for me.

What I ate; they’re pretty delicious!

20:00 – Pulang menuju villa kita di Habitat @ Hyarta (Jl. Palagan Tentara Pelajar, Karang Moko.) Jadi villa ini sebenernya lebih cocok disebut sebagai rumah di dalem kompleks, yang disewakan oleh developernya sebagai ‘villa’. Tapi basically, it was a house di dalam kompleks perumahan penduduk. Kita sewa 3 unit yang semuanya letaknya berdekatan. Di kompleks sana ada mini swimming pool dan ruangan fitness yang bisa kita pakai juga (we didn’t use it btw).

Penampakan villa kita dari depan.

Ini jalanan kompleks depan villa kita pas siang dan malam hari:

Super duper pardon me, gue ga sempet foto isi villanya karena keluarga gue udah keburu membeludak masuk dan berantakin ruang tamunya dengan koper-koper mereka, hahaha. I will try my best untuk deskripsiin isinya though. Setiap unit villa / rumah berisi 3 bedroom dan 3 bathroom. 1 bedroom + 1 bathroom di lantai 1, dan 2 lainnya di lantai 2. Di lantai 2, 1 bedroomnya merupakan master bedroom yang punya kamar mandi di dalem lengkap sama bathtub (in my unit, of course that room belongs to my sis yang baru merit haha.) Ruang tamu di lantai 1 nya gede dan sofanya panjang dan cozy banget (bisa muat satu orang buat tidur di sana kalo mau). Dapur dan dining roomnya nyatu sama living room and it was spacious as well. Setiap kamar di kasih 1 ranjang king, lemari pakaian, dan meja rias. Did I mention kalo AC di sana juga dingin banget? Overall it was a very very very nice unit to stay in!

Foto lengkapnya bisa kalian cek di website mereka di sini ya: http://www.habitat-hyarta.com/

21:00 – Abis mandi dan beres-beres, sang suami dan ipar gue ngajakin ngopi di Epic Coffee & Epilog Furniture (Jl. Palagan Tentara Pelajar No.29, Mudal.) Tempatnya around 20 mins jalan kaki dari villa kita. Epic Coffee ini gedeeeee, bagus, dan menurut sang suami, kopinya termasuk enak. Di sana mereka juga jualan furniture kayak meja, stool, dan lain-lain.

Kita ngobrol 1.5 jaman sampe jam mereka tutup yaitu jam 11 malem. After that we went home to rest and that marked the end of our first day in Jogja 🙂

Expenses untuk hal-hal major yang penting (dalam Rupiah):

  1. Airasia one way Jakarta – Yogyakarta untuk berdua: 831.330
  2. Sewa 2 unit minibus Toyota Hiace untuk 3 hari (including BBM + biaya supir): 7.200.000
    (perunitnya 1.200.000 per hari, belum termasuk tips dan uang makan supir)
  3. Parkir di Gua Maria Tritis untuk 2 minibus: 30.000 (15.000 per minibus)
  4. Parkir di Hutan Pinus Pengger untuk 2 minibus: 40.000 (20.000 per minibus)
  5. Habitat @ Hyarta 3 unit villa 3D2N: 11.462.400 (perunit permalam 1.910.400)

Important tips:

  1. Supaya lebih nyaman, it’s better to wear comfortable shoes pas ke Gua Maria Tritis. Pake sendal gapapa sih karena jalanan di sana ga curam gimana banget, tapi saran gue hindari pake sendal jepit / sendal lainnya yang loose dan gampang lepas.
  2. Hutan Pinus Pengger saat gelap can be quite scary dan vision kita juga jadi limited karena lampu di sana minim. It’s best untuk left the area around 5:45 pm – 5:50 pm, sebelum matahari bener-bener terbenam (kayak kita kemarin.)
Summary
Bandara Adisutjipto, Ayam Goreng Suharti, Gua Maria Tritis, Hutan Pinus Pengger, Cengkir Heritage Resto and Coffee, Habitat @ Hyarta, Epic Coffee & Epilog Furniture.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *