18 June 2017

9:30 – Sampe di Roma Termini. Ini lanjut ya dari post kemarin. Kita nginep di apartment Airbnb nyewa sama orang namanya Aymara, dan tempatnya cuma 15 menitan jalan kaki dari terminal (bisa naik metro juga 1 stasiun, tapi ga jauh). Begitu sampe train station kita langsung cus ke apartment untuk beres-beres dan mandi.

Apartmentnya si Aymara ini diurus oleh Gloria (ibu-ibu yang ga bisa bahasa Inggris, tapi cukup jelas menjelaskan mana air minum, mana kunci untuk pintu depan, dll dll). Tempatnya sendiri bersih, sepi (kita cuma pernah sekali papasan sama tenant dari kamar lain), cozy, dan ada wc di dalem kamar kita (yeaaaaay!)

Showernya sempit banget, tapi kamar mandinya bersih (dan yang gue suka: kering!).

Cuma sayangnya menurut gue kamarnya terlalu gelap / remang-remang. Tapi ownernya baik, fast response, dan kita boleh nitip koper dulu abis check out (meski koper kita cuma ditaro gitu aja di lorong dan gue sempet takut kopernya ilang.) But overall we had a great stay!

11:00 – Keluar cari makan ‘cos we were both starving. Karena udah laper kita cuma makan di resto super kecil and random yang ada di deket apartment. Gue ora inget namanya apa, tapi meski restonya kecil dan ga gitu meyakinkan, ternyata makanannya enak 😀

11:30 – Balik apartment untuk tidur siang, maklum bok semaleman di kereta membuat fisik kita berdua lumayan lelah.

— Travel Pass —

Ok now before we start on discussing anything else, gue mau jelasin dikit tentang sistem transportasi di  Rome. Jadi mereka punya metro (semacam MRT-nya Singapore: kereta yang running di dalem kota), bus, taxi (penuh scam, mahal, dan sangat tidak recommended), dan train (kereta yang running di dalem kota, tapi juga menghubungkan Rome ke kota lain di luar daerah. Kalo mau ke luar negri (misal ke Vienna) itu juga pake train.) Hal ini penting-penting ngga karena hari terakhir gue di Rome gue sempet nyasar ke tempat metro padahal gue harusnya traveling by train. Grrr, more about that later.

Selama kita di Rome, kita ga beli travel pass karena: 1. Jujur aja itinerary Rome belum rampung-rampung amat the moment kita sampe hahaha karena gue terlalu lelah ngurusin itinerary Austria dan Swiss (Swiss paling menguras tenaga beneran), 2. Tempat turis di Rome kebanyakan deket satu sama lain / within walking distance. Sistem tiket di sini sama kayak negara-negara sebelumnya: begitu naik bus atau masuk Metro station, tiket harus divalidasi (penting!!!) di mesin tiket kecil. Kalo kalian lupa validasi tiket dan kena inspeksi, kalian akan didenda up to ratusan Euro dengan anggapan nebeng gratis.

Travel pass yang tersedia:

  1. € 1.50 (B.I.T. / Standard ticket) – valid untuk 1 kali Metro ride atau 100 menit bus rides (jadi kita boleh naik turun bus selama 100 menit dari sejak tiket divalidasi). Ini tiket yang gue beli selama di Rome, terus kalo lu udah terlanjur pake tiket itu untuk bus, lu ga bisa pake tiket yang sama lagi untuk Metro (karena dulu tiket kita pernah ga berfungsi pas di Metro station, begitu nanya petugas kita baru ngerti kalau tiketnya invalid karena udah keburu dipake buat bus sebelumnya.)
  2. € 7.00 (24 hour ticket) – valid for unlimited metro, bus, and train travel within Rome
  3. € 12.00 (48 hours ticket) –  valid for unlimited metro, bus, and train travel within Rome for 48 hours from validation
  4. € 18.00 (3-day ticket) – valid for unlimited metro, bus, and train travel within Rome for 72 hours from validation
  5. € 24.00 (C.I.S. / weekly ticket)
Contoh bus ticket BIT € 1.5.

Tiket ini bisa dibeli di vending machine di station atau di Tabacchi (basically kayak warung gitu hahaha, biasa jualan minum / koran / rokok, blablabla). Gue selalu beli di Tabacchi karena mereka literally everywhere; cari aja plang nama / papan toko tulisan T gede (biasa warna item putih) dan ada tulisan Tabacchi-nya. 10 dari 10 kali gue ke Tabacchi kaga ada satupun penjaga tokonya yang bisa Inggris T_T tapi mereka ngerti kok dikit-dikit, lu sebut aja “bus ticket”.

— Scams in Italy —

Ok next, I wanna talk about scams in Italy. Gue males panjang lebar, intinya scam di Rome (dan kota besar di Italy lainnya kayak Milan) itu sangat sangat common (sama kayak Paris). It’s not a joke when people say banyak maling dan penipu di Rome; I can definitely vouch for that. Nanti di bawah gue akan ceritain pengalaman pribadi gue with scams, tapi right now gue kasih summary dulu supaya kalian tau tipe-tipe scam yang perlu dihindari (point-point di bawah ini adalah scam yang gue saksiin / experience langsung):

  1. Orang (maap) kulit hitam / negro jualan gelang. Cara kerja mereka, they will come to you, ajak ngobrol, pakein gelangnya di elu, lalu maksa lu beli.
  2. Orang jualan payung / bunga / lukisan / tongsis apapun itu. They will MAKE you touch / hold their stuffs (entah dengan tiba-tiba kasih lu secara random dan tanpa sadar lu ambil barangnya, atau apa kek), dan begitu lu pegang barang mereka, mereka ga akan mau terima balik and will intimidate you to buy.
  3. Orang ngajak lu foto bareng mereka (they wear costumes) dan abis itu lu dipaksa bayar (dipaksa as in dikepung dan dadalu di dorong-dorong kayak mau digebukin. Gue rasa sih mereka belaga doang ga akan berani beneran gebuk, tapi tetep aja kalo udah sampe nyentuh-nyentuh kayak gitu intimidasinya lumayan works a.k.a nyeremin haha.)
  4. Ini klise, tapi pas lu lagi berhenti untuk ngeliatin show di pinggir jalan, anak kecil di belakang lu udah lagi mau nyopet isi tas lu.
  5. Pas mau nyebrang jalan dan lagi nunggu lampu merah, maling deketin lu dari belakang pura-pura ikutan antri padahal mau nyolong.

Gue have been very loud in sharing these stories semenjak pulang honeymoon (and also sharing the fact that I was deeply disappointed with this city). I don’t know, Rome wasn’t for me. Gue rasa pastinya di luar sana banyak juga orang Indo yang cinta banget sama Rome, but that wasn’t the case for me. Menurut gue Rome terlalu rame, touristy, unsafe, and not to mention terkesan aga usang / jorok dan kotanya bau (haha jalanannya kadang suka bau pesing beneran, gue sampe semaput gue kira gue lagi di Indo :P)

Terus meski scam di atas terkesan remeh temeh, tapi gue rasa itu menurunkan semangat jalan-jalan turis. Plus mental kita biasanya udah kalah the moment kita dikeroyok atau diintimidasi untuk bayar (jadi buntut-buntutnya kena palak juga meski udah tau lagi ditipu). Gue traveling ke Rome knowing all of these, but still gue dan sang suami (hampir) kena beberapa kali. Damn it kan. Honestly awalnya gue mau skip Rome karena ga gitu tertarik sama kotanya, tapi sang suami pengen ke sini sekalian visit the famous St. Peter’s Basilica, jadilah cus kita masukin Rome juga ke itinerary. Our bad, harusnya Rome 2 hari aja cukup, ga usah sampe 3 hari karena emang ga gitu ada apa-apa.

Anyway more info about scams in Italy please read these links:

  1. http://www.news.com.au/travel/world-travel/europe/restaurant-scam-in-venice-targets-and-exploits-tourists/news-story/8dfefe4a5c1a7f0327c809105c57686b (Jangan pernah beli makanan di restoran yang ngga nyantumin harga makanannya berapa!)
  2. http://travelscams.org/europe/common-tourist-scams-italy
  3. https://www.worldnomads.com/travel-safety/europe/italy/common-scams-in-italy

Fiuh, I have so many stuffs to write about this, tapi pelan-pelan ya, satu-persatu akan dibahas seiring berjalannya itinerary ini. Hahaha.

13:30 – Jalan-jalan dan late lunch di La Taverna dei Quaranta (Via Claudia 24). Nah pas otw ke resto ini kita disamperin satu bapak-bapak yang ngasih kita kartu nama resto ini beserta nama dia; bapak-bapak itu ngekorin kita meski kita udah say thanks dan jalan cepet; he asked us to try this resto and show his name card to the waiter. Karena kebetulan kita emang udah Googling dan lagi menuju ke sana, kita cuekin lah si bapak-bapak ini dan akhirnya kita ga nunjukin kartu nama dia ke pelayan di sana. My guess maybe dia akan dapet incentive kalo bawa tamu or what, gue gatau dan udah super skeptis dan uncomfortable diekorin begitu. Pft.

Anyway kita pesen pizza tipis buat share dan cappuccino. Bok pizzanya sumpah enak bangettt!! It was very oily dan lemes (a bit weird sih at first), tapi rasanya beneran ciamik. In fact, one of the few pizzas yang sampe sekarang masih sangat berkesan dan bikin gue kangen mau nyobain lagi adalah yang ini.

Tipis tapi gede dan lumayan ngenyangin.

Nah di beberapa resto di Italy, kalau kita dine in / makan di tempat, kita dikenain cas lagi € 1 – 3. Jadi ibaratnya kayak semacam service charge mereka gitu. Di resto ini juga begitu (kalo ga salah € 3 atau € 3.5 gue aga lupa); even though we knew that all along, kita tetep pengen cobain dine in dan ngerasain environment restorannya. Pelayanannya super, um… tidak terlalu ramah tapi ga sampe ga ramah? Hahaha standard banget deh intinya, dan mereka super sibuk karena pelayannya kaga banyak. Honestly gue lumayan nervous pas makan di sana, takut-takut salah ini itu dan kena omel orang local (trauma di Amsterdam dan Vienna bok, tapi surprisingly orang-orang Italy kebanyakan ramah-ramah – kecuali scammer-scammer bangke ya haha.)

Somewhere in Rome.

14:15 – Jalan ke Colosseum yang udah deket sama resto tadi. Nah selama ini meski kita traveling pas summer, kita jarang banget kepanasan apalagi keringetan. Well akhirnya pecah telor juga karena siang itu kita lumayan kegerahan. Hahaha. Mataharinya panas dan terik banget di Colosseum karena they didn’t have enough tree / cover whatsoever melainkan basically cuma lapangan outdoor terbuka. Untungnya sorean dikit cuacanya udah lebih adem dan berangin.

Di Colosseum ini apa-apa bayar dan apa-apa ngantri. Gue dan sang suami kebetulan aga anti sama yang bayar-bayar :p hahaha canda deng, kita memang dari awal ga berniat untuk masuk. Kita cuma foto-foto dan jalan-jalan sebentar ngelilingin gedungnya, abis itu cus. Nah sebelumnya pas pertama kali sampe, di pintu masuk kita ngeliat a bunch of guys berpakaian kayak gladiator lagi foto-foto sama turis. My innocent husband asked me, “Mau foto ga Uc?”, to which I replied, “Kaga lah itu mah pasti bayar.” And here began our first scam experience.

Pas pulang, kita keluar lewat gerbang yang sama dan ngelewatin mereka lagi, unfortunately saat itu gue dan sang suami lagi asik ngobrol dan ga notice mereka sama sekali. Tiba-tiba without any of us realizing, salah seorang dari mereka samperin gue dan nanya sesuatu secara cepet-cepet (gue lupa apa, kalo ga salah cuma greetings nanya mau foto ga) and before gue jawab or even finish loading of what’s happening, orang itu tarik tangan gue dan temennya yang lain juga langsung narik tangan sang suami, bawa kita ke tengah-tengah mereka dan start dressing us up with their props. Bajingan kan?

Terus salah seorang di antara mereka langsung ngambil hp gue dari tangan sang suami untuk foto-fotoin kita. Setelah selesai, mereka semua langsung ngerubutin sang suami (as in dia beneran dikepung 4 cowo keker-keker) dan mereka started demanding money. One of them (sorta like the leader kali ya soalnya dia yang nodong dan paling belagu) dorong-dorong dada sang suami sambil ngomong, “C’mon man, c’mon. € 20.” Terus berkali-kali gamau balikin hp gue sampe sang suami harus maksa ambil hpnya. Bajingan kali kedua kaga tuh?

Gue di belakang berusaha mencairkan tension (dan membebaskan sang suami lol) tapi mereka ga ada yang gubris gue at all (bajingan kali ketiga). Sang suami udah ragu-ragu dan bilang kemahalan, tapi his voice definitely kalah kenceng sama cowo-cowo maling itu. Intimidasi ini going on for a while dan kaga ada satupun orang yang interfere atau nolongin kita (bajingan kali keempat). Akhirnya at one point I asked my husband, “Dia minta berapa?”, dan suami gue bilang, “20.” Ga pake lama gue ambil dompet sang suami (that’s the only time akhirnya si leader balik badan and ngadep gue! Taik kan!), terus gue ambil € 5 dan gue kasih ke si leader. Dia cuma melototin gue dan temen dia yang lain bilang, “€ 10 lah paling ngga!” Sembari bergerak pergi, gue ngomong ke mereka semua kalo 20 kebanyakan, dan 5 masih oke. Ga pake babibu, dengan posisi mereka masih melototin gue, gue gandeng pergi sang suami dari sana. Bajingan kali kelima!!!! Ukhhh kesel banget nginget-ngingetnya lagi! T_______T

Kesalahan kita berdua saat itu adalah pada saat digandeng pertama kali, harusnya gue udah langsung marah dan teriak gamau (ngomong baik-baik ga mempan sama orang-orang ini, trust me! Mulut mereka licin, pinter ngeles, dan pura-pura bego while being friendly, padahal tindak-tanduknya aggressive.) Apa daya otak aga konslet dan loadingnya terlalu lama saat itu. Gue a bit nyesel gue kasih € 5 hahaha, tapi after that gue dan sang suami makin lebih ati-ati lagi while traveling. Honestly that shocked us for a while. On a lighter note, kita berdua sama-sama belajar dari kejadian itu, and then my husband praised me for acting like that (bahaha acting kaga kalah preman maksudnya) dan gue juga praised him for being buff (HAHAHA, secara kalo doi kurus kerempeng kaga berotot mungkin nyali gue ga segede itu, I don’t know he kinda gives me a sense of security :p)

Para maling gladiator di Rome. Harusnya gue gorok beneran tuh leher :p

Taken right after dipalak. Hahaha. Itu muka shock campur seneng kaga jadi keluar € 20.

14:45 – Untuk refreshing dari memori kelam dipalak, kita naik bus ke Villa Borghese (Alamatnya di Piazzale Napoleone 1 and it’s the third largest public park in Rome!). Di sini basically taman yang super gede dan ada museum apa gitu yang berbayar. What we did here was only jalan-jalan, nenangin diri, bahas kejadian tadi over and over again (hahaha), dan ngumpulin mood lagi untuk stay positive 🙂 And it works! Emang cara paling cepet ngecas mental gue adalah dengan surround myself sama nature yang ijo-ijo 😀

Btw di sini sepiiii banget dan kita bisa sewa sepeda atau naik mini tourist train, but we didn’t do it, we just walked instead. Karena mau pake bus tiket kita lagi yang cuma berlaku 100 menit, kita ga lama-lama di sana (nah pas mau jalan balik kita nunggu hampir 30 menitan karena busnya lama banget ga dateng-dateng. Untung tiket busnya belum expired.)

Btw kalo mau tau rute, bisa cek di Gmaps, nomor bus lumayan akurat meski jamnya kebanyakan ngaret.

15:30 – Ke Trevi Fountain. As expected si Trevi Fountain ini ruameeeeeeeenya minta ampuuunnnn. Sesek banget nget, dan karena kita baru aja trauma kena scam, jadinya jalan-jalannya super duper parnoan, apalagi kalo di tempat rame begitu. Hahaha. Kita cuma numpang foto sejenak terus langsung cus jalan-jalan ke sekitar sana.

16:00 – Kita visit beberapa tempat lagi such as Pantheon dan Church of Santa Maria Maddalena. Intinya sih tourist placenya kinda ngumpul di satu square gitu, dan kita bisa jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Ini kita cuma ngiter-ngiter aja. Tempatnya again pada rame dan bikin gue males menetap.

Wow look at that.

17:00 – Ke Piazza Navona. Gue janjian sama kokonya temen gue di sini, namanya Ko Adi. He has been studying in here for a while.

Pretty door at Piazza Navona.

Unfortunately pas perjalanan dari Trevi Mountain ke Piazza Navona, kita hampir kecopetan. Jadi along the way, kita stopping beberapa kali untuk foto lah, ngeliatin pelukis di pinggir jalan lah, apa lah. Nah sebelum honeymoon ini, gue sengaja nyari ransel yang beresleting dan berkancing (jadi double perlindungan) karena udah denger banyak maling di Rome. Waktu gue lagi ngeliatin pelukis, gue ngerasa kancing tas gue kebuka (ada bunyi cetek-nya pelan), gue langsung pegang kancingnya sembari keluar dari lingkaran / barisan orang nonton, dan bener aja tas gue udah kebuka. Di belakang gue tepat ada 2 anak kecil cewe (paling 13-14an tahun) and mereka dressed like gypsies. Gue langsung yakin 100% mereka culpritnya. Mereka berdua langsung leave setelah gue sadar, dan gue ngajak sang suami ngekorin mereka (which was a bit dangerous sebenernya, karena setelah baca-baca forum, anak-anak ini selalu punya ‘guardian’ yang ngawasin mereka dari jauh). Gue udah pegang kamera gue, tapi I was too nervous to take pictures. Haha nyesel harusnya gue jepret aja terus stopped following them.

Begitu kita ekorin sejenak, mereka stop di perempatan dan hampir aja nyolong dompet cewe di depan mereka yang lagi antri nungguin lampu merah. Jadi sistem nyolong mereka adalah sbb: mereka berdua pake selendang, dan setiap kali mau nyolong, yang satu akan buka selendang dia lebar-lebar (jadi orang belakang ga bisa ngeliat mereka lagi ngapain) sementara yang satunya lagi nyolong / nyopet. Right before mereka mau nyolong cewe itu (posisi selendang udah kebuka dan udah ngecover badan mereka), salah satu cewe nengok ke belakang dan tatapan mata ama gue. Udah, abis itu mereka langsung ga jadi antri lampu merah, belok kiri instead dan jalan cepet terus dikit-dikit nengok ke belakang ngeliatin gue dan sang suami yang masih sempet ngekorin mereka lagi sebentar. Karena gue takut ada yang back up mereka, akhirnya I told sang suami untuk stop ngekorin mereka.

Gila kan, jadi down lagi lah mental kita hari itu haha. Not to mention kita juga sempet disamperin negro yang bawa gelang (yang gue bahas di atas, tapi setiap kali dideketin kita langsung cabut sambil ngacangin dia).

That was the first time in our honeymoon gue ngerasa super down and insecure. Luckily 20 menitan setelah kejadian itu kita udah ketemuan sama Ko Adi, jadi kita ngerasa lebih aman dan tentram karena ada guide :'(

18:00 – Abis curhat panjang x lebar x tinggi (bervolume banget kan curhatan gue :p) kita diajak Ko Adi have dinner di Sarap Filipino Restaurant (Viale Giulio Cesare, 113) sekalian jalan ngelewatin Castel Sant’Angelo. Kita ga actually ke castle nya melainkan cuma liat dari jauh.

Si Sarap ini bener-bener Sarap btw. Hahaha. Not only makanannya affordable, it was also delicious dan bernasi!!! Phew. Gue dan sang suami sampe balik lagi ke sana besokannya x’D

20:30 – After that kita ke St. Peter’s Basilica (Piazza San Pietro) untuk foto-foto pas malem hari karena kata Ko Adi pas malem buildingnya nyala dan bagus banget. It was pretty magical indeed 🙂

Gila so majestic.

Muka girang kita karena ada local guide yang ngejagain. Big thanks to Ko Adi for accompanying us!

21:00 – Abis itu sebelum balik apartment, kita mampir ke one last stop yakni dorm-nya Ko Adi (gue lupa namanya apa haha.) Ko Adi ajak kita keliling dan liat-liat dorm dia yang cuakep.

Pemandangan dari rooftop dorm-nya Ko Adi.

Nah something interesting happened again that night :’) mau nangis gue ngingetnya haha. Kita left Ko Adi’s dorm around jam 11 malem, dan waktu itu Ko Adi kasih kita dua biji bus ticket dia yang baru buat kita pake. Begitu naik bus, ticket sang suami ga mau divalidasi mesin (mesinnya keluarin warna merah, kalau tiket ok mesinnya kasih warna ijo, tapi kita tetep naik anyway dan duduk karena gamau ketinggalan bus.) Terus iseng, gue cek lah tiket sang suami, dan pas kita masih 2.4 km away from home, gue noticed kalau bus ticket sang suami udah kepake and actually has expired bulan lalu!! :’) Jadi si Ko Adi salah ngasih satu tiket yang udah used :’) Hahaha, salah kita juga ga langsung ngecek tiketnya. Sang suami insisted to ride the bus anyway sampe tujuan (karena kalo turun sekarang, kita juga ga bisa beli tiket lagi karena Tabacchi udah pada tutup, dan kaki gue udah mau patah saking pegelnya jalan plus I was so freaking tired both mentally and physically), tapi hati gue langsung dag dig dug dhuer daia ngebayangin kena cek petugas dan didenda :’) Memang selama kita di Rome gue ga pernah liat petugas ngecekin, tapi menurut orang-orang di forum, sometimes mereka bisa muncul out of nowhere untuk random check. Who knows kita akan kena cek malem itu?

Yah intinya sih nyali gue emang kecil, itu aja titik haha. Akhirnya gue meyakinkan sang suami bahwa I’ll be fine, dan kita langsung turun di the next stop :’) we ended up jalan kaki 2 km lebih tengah malem after a really long day. Gila gue ga akan pernah lupa betapa berkesannya hari itu (in a good way!) karena after all semua hal yang terjadi eventually jadi pengalaman yang indah and it was one hell of a story to tell.

Gue masih inget, biasanya pas honeymoon kita sampe penginapan jam 9 atau 10an, tapi hari itu kita sampe super duper late and feeling super duper tired. Sepanjang perjalanan pulang we hold hands, ngobrol nonstop tentang hari itu, dan sang suami terus menerus ngecekin Gmaps dan semangatin gue, telling me that we were almost there. It was such a memorable day and I am grateful I get to experience that kind of ups and downs with him.

Asal berjalan kita bersama,
Satu sama lain kita percaya,
Pada akhirnya Tuhan kan menjaga.

🙂

Expenses untuk berdua:

  1. Airbnb Aymara’s Apartment 3D2N: € 94
  2. Lunch pizza & beli cappuccino at La Taverna dei Quaranta: € 14
  3. Foto bangke Coloseum: € 5
  4. Bus ticket: € 3
  5. Beli minum: € 1.17
  6. Dinner at Sarap (sekalian bayarin Ko Adi): € 19

Total: € 136.17

Important tips:

  1. Usahakan bawa tas ransel yang ada resleting dan kancingnya. Kalo lagi jalan di tempat super rame, biasanya ransel gue puter ke depan perut (sebodo meski keliatan freak haha.)
  2. Untuk Europe trip ini, setiap keluar penginapan, sebagian besar uang dan passport kita simpen di waist bag (kita berdua masing-masing pake satu. Beli yang tipis aja supaya ga bulky.)
  3. Ga semua tap water di Rome aman untuk diminum.
  4. Salah satu hal positif about Rome: banyak WC gratis! 😀
Summary
Roma Termini, Aymara’s Apartment, La Taverna dei Quaranta, Colosseum, Villa Borghese, Pantheon, Church of Santa Maria Maddalena, Trevi Fountain, Piazza Navona, Castel Sant’Angelo, Sarap Filipino Restaurant, St. Peter’s Basilica.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *